Al-Mizan, Jatman, LazisNU Majalengka Gelar Puncak Peringatan Maulid Nabi Saw
Sebagai akhir dari rangkaian Safari Maulid Nabi Muhammad Saw yang
diadakan Yayasan Al-Mizan dan Unit-Unit Pendidiakannya, Jam’iyyah Ahlith
Thoriqoh Al-Mu’tabaroh An Nahdliyyah (Jatman), Kanzus Sholawat dan Lazsinu Kabupaten
Majalengka di 134 tempat se Jawa Barat dan Jawa Tengah, maka digelar lah Puncak
Peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw disertai dengan Manaqib Perdana Syeikh Abi
Hasan Ali Assyadzili RA dan Haul Syuhada 10 November di Auditorium Pertiwi
Al-Mizan, Selasa (16/11/21).
Acara yang dipusatkan di Aula Pesantren Al-Mizan (auditorium)
ini dihadiri oleh ribuan Jamaah, para Kyai/Ajengan dan para pejabat baik dari Forkompida
Kab. Majalengka, Muspika Kec. Jatiwangi dan para orang tua santri.
Diawali dengan Tawasul, Maulid Nabi Muhammad Saw, Khataman
Aqidatul Awwam, dan Wirid Syadziliyah serta Manaqib Syeikh Abi Hasan Ali
Assyadzili RA.
Sambutan atasnama panitia dan Keluarga Besar Al-Mizan disampaikan
oleh KH. Maman Imanulhaq selaku Ketua Pembina Yayasan, Taushiah dan Pembinaan
ke-Thoriqoh-an oleh almukarom Habib
Muhdhor Ahmad Asegaf dari Pemalang yang juga Santri Kinasih Maulana Abah Habib
Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Umar bin Toha bin Hasan bin Yahya. Diakhiri
dengan doa oleh almukarom DR. KH. Ahmad Sarkosi Subki (Rois Jatman Wushtho Jawa
Barat).
Dalam taushiahnya, Habib Muhdhor mengingatkan, “kepada para Muridin Syadziiliyah (sebutan orang yang sudah bait thoriqoh) agar
tidak bermain-main dengan thoriqoh. Artinya, orang yang sudah baiat thoriqoh kepada
Mursyid khususnya kepada Maulana Abah Habib Luthfi agar melaksanakan segala
ketentuan yang ada dalam thoriqoh Syadziliyah. Orang yang sudah baiat berarti
sudah sumpah setia kepada mursyid dan siap melaksanakan sumpahnya”, katanya.
Dalam thoriqoh syadziliyah kata Habib Muhdhor yang juga
penulis buku “Cahaya Nusantara Maulana
Abah habib Luthfi” ini ada wirid dan suluk.
“Wirid Syadziliyyah harus didawamkan setiap selesai shalat Maghrib
dan Shubuh berupa Istighfar, Shalawat dan Tahlil masing-masing 100 kali. Sedangkan
suluknya; belajar/mengajar, shalat berjamaah setiap waktu, membaca al-Quran setiap hari, dan memperbanyak
slaturrahim”, jelasnya.
Selain itu, Muridin juga harus terus besambung dengan Mursyidnya,
baik jasmani atau ruhani. Baik ucapan, perilaku dan ahwalnya. Karena Mursyid
adalah segala-galanya bagi murid; pembimbing ruhani menuju Allah, orangtua, dan
penasihat. Untuk itu kehadiran Murid dalam acara yang diselenggarakan Mursyid khususnya
Keliwonan (setiap Jumat Kliwon) wajib diikuti. Terutama dalam wirid Syadziliyahnya.
Menurutnya, ada banyak manfaat kalua kita hadir di Kliwonan
Abah Habib Luthfi. Diantaranya kita bisa menatap wajah Mursyid. Begitu juga
Mursyid bisa meanatap wajah sang Murid.
“seorang murid yang
ditatap wajahnya oleh Mursyid (orang sholeh/Wali) maka akan menjadi kebahagiaan
dunia akhirat bagi sang murid”, katanya.
Manfaat lain dari hadir di Kliwonan, jelas Habib Muhdhor adalah “kita sang Murid bisa wirid bersama
dengan sang Mursyid. Mulai dari Istighfar, Shalawat, dan Tahlil. Coba perhatikan
gaya dan intonasi wirid yang dibacakan maulana Habib Luthfi. Indah sekali. Dan itu
tidak dibuat-buat. Kekhusyuan dan keistiqomahan dalam membaca wirid apalagi
dengan Mursyid maka akan mendatangkan Sirr
(rahasia) Madaad (pertolonagan dari
Allah)”, pungkasnya.











