BERITA

Sekolah Sudah Pakai Teknologi, Tapi, Apakah Sudah Menjadi Sekolah Digital?

Telkom University Bongkar Rahasia Membangun Ekosistem Sekolah Digital dalam Webinar Disdik Jawa Barat

Jatiwangi, Jawa Barat — Apa jadinya jika teknologi bukan sekadar digunakan untuk mengajar, tetapi menjadi bagian dari seluruh ekosistem sekolah? Inilah salah satu pertanyaan penting yang dibahas dalam Webinar “Membangun Ekosistem Sekolah Digital” yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat berkolaborasi dengan Telkom University, Rabu siang.

Kegiatan ini diikuti oleh ratusan perwakilan SMA/SMK se-Jawa Barat, termasuk Ramdan Ahmad Dijaya, S.Pd., Guru IT sekaligus perwakilan peserta dari SMA Islam Al-Mizan Jatiwangi.

Webinar menghadirkan Syachrial Syarif dari Telkom University sebagai narasumber yang membahas secara komprehensif bagaimana sekolah dapat melakukan transformasi digital secara bertahap, terukur, aman, dan berkelanjutan.

πŸ’‘ Transformasi Digital Bukan Sekadar Menambah Teknologi

Salah satu poin menarik yang disampaikan dalam webinar adalah bahwa sekolah digital bukan berarti sekolah yang memiliki perangkat teknologi paling banyak.

“Digital Transformation itu bukan sekadar ‘menambahkan teknologi’, tetapi mengintegrasikan teknologi ke dalam sistem pendidikan.”

Artinya, membeli laptop, memasang aplikasi, atau menggunakan platform digital belum otomatis menjadikan sebuah sekolah sebagai sekolah digital. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana teknologi tersebut mampu menghubungkan guru, siswa, data, orang tua, sekolah, dan stakeholder dalam sebuah ekosistem yang terintegrasi.

🏫 Sekolah Konvensional vs. Ekosistem Sekolah Digital

Dalam pemaparannya, Syachrial menjelaskan adanya perubahan paradigma yang cukup signifikan.

Sekolah konvensional cenderung menggunakan pola:

πŸ‘¨‍🏫 Guru → πŸ“š Materi → πŸ‘¨‍πŸŽ“ Siswa

Data masih banyak yang terpisah dan manual, komunikasi cenderung satu arah dari sekolah kepada orang tua, sedangkan teknologi lebih sering diposisikan sebagai alat tambahan.

Sementara itu, ekosistem sekolah digital mengembangkan pola:

πŸ‘¨‍🏫 Guru ↔ πŸ‘¨‍πŸŽ“ Siswa ↔ πŸ’» Teknologi ↔ πŸ“Š Data

Data dapat diintegrasikan dan dianalisis secara lebih cepat. Komunikasi juga berkembang menjadi ekosistem yang melibatkan:

Siswa ↔ Guru ↔ Orang Tua ↔ Sekolah ↔ Stakeholder

Dengan demikian, pengambilan keputusan sekolah dapat semakin diarahkan pada data-informed decision making.

🌐 Indonesia Semakin Terhubung, Sekolah Harus Bersiap

Transformasi tersebut semakin relevan di tengah tingginya penetrasi internet di Indonesia.

Berdasarkan data APJII 2026 yang dipaparkan dalam webinar, penetrasi internet Indonesia mencapai 81,72% atau sekitar 235,3 juta pengguna. Pada kelompok pendidikan:

Tingkat SMA/SMK sederajat mencapai 90,44%

Tingkat SMP sederajat mencapai 82,48%

Angka tersebut menunjukkan bahwa generasi sekolah saat ini sudah sangat dekat dengan ekosistem digital. Pertanyaannya bukan lagi: “Apakah sekolah akan masuk ke dunia digital?” Melainkan: “Seberapa siap sekolah mengelola dunia digital tersebut?”

πŸ“Š Dari DATA Menjadi AKSI

Bagian lain yang menarik perhatian peserta adalah konsep Data-Driven School. Alurnya digambarkan sebagai:

DATA → INFORMATION → INSIGHT → DECISION → ACTION → EVALUATION

Data bukan untuk menggantikan manusia dalam mengambil keputusan. Sebaliknya, data membantu manusia mengambil keputusan yang lebih terinformasi. Dengan pendekatan ini, sekolah dapat mulai melihat data bukan sekadar sebagai administrasi, tetapi sebagai aset untuk memahami kondisi pembelajaran, peserta didik, guru, maupun operasional sekolah.

πŸ” Teknologi Canggih Tanpa Kepercayaan? Bisa Jadi Masalah.

Transformasi digital juga tidak dapat dilepaskan dari persoalan keamanan dan kepercayaan. Syachrial menekankan pentingnya membangun TRUST dalam ekosistem digital melalui enam pilar utama:

πŸ”’ Privacy

πŸ›‘οΈ Security

πŸ”Ž Transparency

βš–οΈ Fairness

πŸ“‹ Accountability

🀝 Ethics

Hal ini menjadi semakin penting karena berbagai ancaman digital masih menjadi tantangan di Indonesia. Dalam materi webinar disebutkan bahwa pada tahun 2026 terdapat 13,6% responden yang mengalami penipuan online, 7,8% mengalami pencurian data pribadi/hacking/phishing, dan 7,4% terkena virus online.

Karena itu, membangun sekolah digital tidak cukup hanya dengan membangun sistem yang pintar. Sistem tersebut juga harus aman, transparan, bertanggung jawab, dan berpihak pada kepentingan peserta didik.

πŸš€ Lalu, Harus Mulai dari Mana?

Bagi sekolah yang ingin memulai transformasi digital, Syachrial memperkenalkan 5 langkah roadmap:

ASSESS: Audit infrastruktur, SDM, data, dan platform yang sudah dimiliki.

DESIGN: Membangun strategi dan arsitektur digital sekolah.

PILOT: Melakukan uji coba pada kelas, guru, atau platform tertentu.

SCALE: Mengintegrasikan sistem ke seluruh sekolah, SDM, dan stakeholder.

OPTIMIZE: Melakukan evaluasi berkelanjutan menggunakan analytics, feedback, dan AI.

Prinsip Sederhana: START SMALL → LEARN → SCALE → IMPROVE

Jadi, sekolah tidak harus langsung melakukan perubahan besar-besaran. Mulailah dari sesuatu yang kecil, pelajari hasilnya, kembangkan yang berhasil, kemudian lakukan perbaikan secara berkelanjutan.

🎯 Teknologi Bukan Tujuan Akhir

Hal yang tidak kalah penting, keberhasilan transformasi digital tidak diukur dari berapa banyak laptop, aplikasi, atau platform yang dimiliki sekolah. Ukuran sebenarnya adalah IMPACT.

Lima aspek yang menjadi perhatian adalah:

πŸ“š Learning

πŸ‘₯ People

βš™οΈ Operation

πŸ›οΈ Governance

🌱 Equity & Sustainability

Dengan kata lain, teknologi harus memberikan dampak nyata terhadap kualitas pendidikan.

πŸ’¬ “Sekolah Digital” Bukan Tentang Banyaknya Teknologi

Pesan yang menjadi salah satu penutup utama webinar tersebut sangat relevan bagi dunia pendidikan saat ini:

“Sekolah digital bukan sekolah yang mempunyai teknologi paling banyak, tetapi sekolah yang mampu menggunakan teknologi untuk menciptakan pendidikan yang lebih baik, lebih inklusif, lebih aman, dan lebih berkelanjutan.”

Webinar yang berlangsung secara interaktif tersebut menjadi ruang berbagi wawasan bagi berbagai sekolah di Jawa Barat untuk melihat transformasi digital bukan hanya dari sisi perangkat dan aplikasi, tetapi sebagai perubahan ekosistem pendidikan secara menyeluruh.

Bagi para pendidik, khususnya guru yang terlibat langsung dalam pengembangan teknologi sekolah, pembahasan ini menjadi pengingat bahwa digitalisasi pendidikan bukan sekadar mengikuti perkembangan zaman, tetapi bagaimana teknologi benar-benar digunakan untuk menyelesaikan persoalan pendidikan.

πŸ‘¨‍πŸ’» Tentang Penulis

Ramdan Ahmad Dijaya, S.Pd.

Guru IT — SMA Islam Al-Mizan Jatiwangi

(Perwakilan Peserta Webinar “Membangun Ekosistem Sekolah Digital”)

“Teknologi akan menjadi berarti ketika bukan hanya membuat pekerjaan menjadi digital, tetapi membuat pendidikan menjadi lebih baik.”

πŸ“² Jangan Sampai Ketinggalan!

Transformasi pendidikan terus berkembang. Yuk, terus ikuti berbagai informasi, kegiatan, inovasi, dan prestasi SMA Islam Al-Mizan Jatiwangi melalui kanal resmi kami:

πŸ“Έ Instagram: @smaunggolanalmizan

πŸ“˜ Facebook: SMA Unggulan Al-Mizan

πŸŽ₯ YouTube: @smaunggolanal-mizan

🌐 Website Resmi: smaunggolanalmizan.sch.id

✍️ Penulis: Ramdan Ahmad Dijaya, S.Pd

Follow, subscribe, dan kunjungi website kami untuk mendapatkan informasi terbaru seputar kegiatan sekolah, pendidikan, prestasi peserta didik, serta berbagai inovasi SMA Islam Al-Mizan Jatiwangi.

🌟 BERSAMA, BERKAH, BERPRESTASI

SMA ISLAM AL-MIZAN JATIWANGI

Pengunjung

PPDB Online 2024/2025

NU Care - LazisNU

NU Care-LAZISNU Majalengka Salurkan 1000 Al-Qur’an dan Majmu Maulid Nabi ke Kampung-kampung

Kontak

Alamat :

Jl. Raya Timur No.1/456 Desa Ciborelang, Kec. Jatiwangi

Telepon :

0233884283 - -

Fax :

-

Email :

smaunggulanalmizan@gmail.com

Website :

https://www.smaunggulanalmizan.sch.id/

Media Sosial :

Absensi Online Guru