HARI GURU NASIONAL, MOMENTUM MENGHAMBA PADA ANAK
Peringatan Hari Guru Nasional (HGN) dirayakan setiap satu tahun sekali, yaitu pada tanggal 25 November. Melalui momentum ini seharusnya kita mengingat kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara yang sangat melekat tentang konsep pendidikan dan pengajaran.
Pertama, pendidikan menuntun kodrat anak agar mereka mendapatkan
keselamatan dan kebahagiaan sebagai manusia dan anggota masyarakat. Dalam menuntun ini,
pendidik diibaratkan petani yang menanam padi. Dalam menanam padi menjadi beras
yang unggul berkualitas petani akan memiliki berbagai cara dan akan sabar dalam
merawatnya. Sama halnya dengan pendidik dalam kegiatan pembelajar, pendidik
harus sabar dan memiliki banyak cara untuk menghasilkan generasi anak yang
unggul, baik dan berprestasi.
Kedua,
pendidikan berupaya memenuhi kodrat kebutuhan tumbuh kembang anak. Sesuai dengan pemikiran Ki Hajar
Dewantara yaitu “Menghamba pada Anak”
yaitu sistem among dengan ikhlas mengabdi kepada anak. Pendidik harus berserah
diri pada anak dan mendidik dengan sepenuh hati, semurni-murninya. Menghamba
pada anak ini bukan pula pendidik dapat diperlakukan dengan semena-mena namun
pendidik harus berorientasi pada kebutuhan anak sehingga anak dapat berkembang
sesuai dengan minat, bakat dan potensi yang dimilikinya.
Ketiga,
menuntun kodrat alam dan kodrat zaman. Kodrat alam
merupakan batas perkembangan
potensi kodrati anak dalam proses
perkembangan kepribadian. Kodrat alam adalah lingkungan tempat anak
berada yaitu kultur budaya maupun kondisi geografisnya. Sedangkan kodrat zaman
adalah perubahan dari waktu ke waktu. Bila dikaitkan dengan kodrat zaman saat
ini, pendidikan global menekankan anak untuk memiliki kecakapan Abad 21 yang
mengitegrasikan antara kecakapan pengetahuan, keterampilan dan sikap serta
penguasaan terhadap TIK dengan tetap mengutamakan kearifan lokal budaya
Indonesia. Oleh sebab itu, sejatinya kita sebagai pendidik hendaknya mendidik
anak-anak dengan cara yang sesuai dengan tuntutan alam dan zamannya yang tidak
bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan.
Keempat, pendidikan itu menumbuhkan
budi pekerti, watak atau karakter yang merupakan gerak pikiran, perasaan, kehendak dan kemauan
sehingga menimbulkan tenaga/semangat. Budi pekerti di sini maksudnya pendidik
bisa memanusiakan manusia yaitu anak didik menuju perbuatan yang baik. Budi
pekerti merupakan modal dasar kebahagiaan yang berperikemanusiaan. Budi pekerti
merupakan kunci untuk mendapat keselarasan dan keseimbangan hidup.
Kelima, bermain merupakan kodrat
anak.
Menurut Ki Hadjar Dewantara permainan itu adalah pendidikan karena masa
anak-anak adalah masa untuk bermain. Dalam hal ini, pendidik harus memahami
bahwa kodrat anak adalah bermain sehingga pembelajaran seyogyanya
diintegrasikan dengan bermain, belajar sambil bermain sehingga pembelajaran
dirasa menyenangkan dan memotivasi anak.
Keenam, yaitu merdeka
belajar. Jiwa merdeka
ini sangat diperlukan sepanjang
peradaban manusia agar
bangsa kita tidak didikte oleh bangsa lain. Kemerdekaan atau kemampuan
pribadi bertujuan agar anak dapat leluasa mengembangkan cipta, rasa, dan karsa
dalam proses belajar. Hal ini selaras dengan semboyan “Tutwuri Handayani”. Yang berarti mengikuti dari belakang dan
memberikan pengaruh. Mengikuti dari belakang berarti memberikan kebebasan
kepada anak tanpa meninggalkan pengawasan. Sehingga anak didik tidak bebas
lepas tanpa pengawasan dan juga tidak terkekang atau terhambat dalam pertumbuhan
dan perkembangannya sebagai manusia merdeka.
Manusia merdeka merupakan tujuan
pendidikan Ki Hadjar Dewantara, merdeka baik secara fisik, mental, dan
kerohanian. Kemerdekaan pribadi dibatasi oleh tertib damai kehidupan bersama,
dan ini mendukung sikap-sikap seperti keselarasan, kekeluargaan, musyawarah,
toleransi, kebersamaan, demokrasi, tanggung jawab, dan disiplin. Manusia
merdeka adalah seseorang yang mampu berkembang secara utuh dan selaras dari
segala aspek kemanusiaanya dan yang mampu menghargai dan menghormati
kemanusiaan setiap orang.
Proses pembelajaran dan suasana kelas
yang mencerminkan pemikiran Ki Hadjar Dewantara Secara konkret sesuai dengan
konteks lokal sosial budaya di kelas dan sekolah khususnya di SMA Unggulan Al-Mizan Jatiwangi melalui pembelajaran di kelas yang diharapkan
akan mampu menghasilkan insan Indonesia yang produktif, kreatif, inovatif,
afektif; melalui penguatan sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang
terintegrasi. Dalam hal ini, kreativitas pendidik sangatlah penting. Tugas
pendidik tidak hanya menyampaikan informasi kepada anak didik, tetapi harus
kreatif memberikan layanan dan kemudahan belajar agar mereka dapat belajar
dalam suasana yang menyenangkan, gembira dan penuh semangat, tidak cemas, dan
berani mengemukakan pendapat secara terbuka.
Anak harus diberi kebebasan untuk berinteraksi dengan sumber belajar yang beragam, anak bisa belajar di manapun dengan cara mereka dengan memanfaatkan asset yang dimiliki oleh sekolah. Tanyakan kepada mereka, apa yang membuat mereka nyaman belajar? di mana mereka ingin belajar? Misalnya seperti di aula sekolah, perpustakaan, taman sekolah, Gazebo, pasar tradisional, sawah, dll. Pemanfaatan asset sekolah oleh pendidik melalui sistem among menghamba pada anak didik ini dirasa akan mampu menggerakkan hati anak dan ini sangat penting sekali dalam memulihkan pendidikan di masa pandemi covid-19. Doronglah anak untuk mampu mengeksplorasi pengetahuan seluas-luasnya sesuai dengan kodrat mereka.
ENUR NUR’AENI RIMAYAH, M.Pd. Guru SMA Unggulan Al-Mizan Jatiwangi
Selamat Hari Guru Nasional 2021,
Bergerak dengan
Hati Pulihkan Pendidikan










